Netty Mindrayani Terima Kekalahan dengan Lapang Dada Tanpa Sogok Menyogok
Nazkanews - Salah seorang calon Ketua PWI Kampar Netty Mindrayani menerima kekalahan dari suara yang ada hanya meraih 5 dari 15 suara. Kemenangan di raih rivalnya Syawal dengan 8 suara.
Meski dalam hitungan awal posisi kemenangan di raih oleh Netty dengan hitungan 8:7. Settingan itu sudah dipersiapkan oleh tim lawannya pada malam sebelum konferkab berlangsung di stanum resort, maka tidak heran jika hitungan 5 suara Netty dan dua kertas suara hangus sudah sampai ke telinga PWI Riau sebelum hitungan suara selesai dilakukan.
Kekalahannya disebabkan surat suara pilihan ganda, nama calon dicoblos keduanya dan satu suara yang membelot karena telah diberi uang dengan jaminan surat mandat dipegang oleh rivalnya.Tarif harga per suara Rp1,5 sampai Rp2 juta.
Netty jauh sebelumnya sudah mempersiapkan diri Siap Kalah dan Siap Menang, sebab ia sudah sangat memahami dinamika pada setiap kali konferkab digelar.
"Politik uang itu sudah tradisi yang mendarah daging, sulit untuk di hapuskan," ujarnya usai mengikuti konferkab PWI VIII.
Sebelum pertarungan dimulai, kedua calon sempat di mediasi untuk melakukan musyawarah dan mufakat, namun Netty menolak mundur kendati ia sudah mengetahui bakal kalah dengan alasan membawa harapan dari pendukungnya untuk maju.
"Bertarung lebih baik daripada mundur sebelum berperang," katanya lugas.
Ia telah menekankan dari sebelum ia secara resmi menyatakan maju, "Kalau PWI ingin berubah, mulailah dari pemilihan ini tanpa uang, dari sana akan terlihat siapa yang benar-benar tulus untuk membesarkan nama organisasi wartawan yang tertua di Indonesia ini," kata dia.
Sementara itu Akhir Yani, mantan Ketua PWI Kabupaten Kampar dua periode sangat mengapresiasi Hj Netty Mindrayani maju sebagai Calon Ketua PWI Kampar karena ingin menggerakkan kembali organisasi PWI terlibat aktif di berbagai kegiatan, memberikan kontribusi untuk masyarakat, pemerintah dan berbagai stake holder.
Dengan telah berhasilnya pembangunan gedung PWI Kampar pada periode kepemimpinannya, mestinya diiringi dengan semakin meningkatnya peran PWI sebagai organisasi profesi wartawan, aktifnya roda organisasi, semakin meningkatnya generasi eksistensi PWI dan anggotanya, berjalannya program kerja dan peningkatan kesejahteraan wartawan.
Akhir juga mengapresiasi pemilik suara konferensi yang menyatakan dukungan ke Netty Mindrayeni tanpa transaksional alias politik uang. Di mana, sebelum pemungutan suara, dari 15 pemilik suara, diproyeksi ada delapan suara yang akan mendukung Netty. Namun dalam pemungutan suara, dinamika terjadi, Netty memperoleh lima suara dan dua suara yang hangus diperkirakan dari dua suara yang masuk proyeksi.
Sejak awal ia melihat Netty dengan tegas mengatakan bahwa ia ingin melihat dukungan riil dari anggota PWI Kampar terutama para pemilik suara di arena konferensi tanpa dipengaruhi uang.
Disisi lain mantan Sekretaris PWI Kampar Molly Wahyuni menyampaikan bahwa dinamika politik internal organisasi PWI Kabupaten Kampar dari masa ke masa terus berkembang.
Sebagai salah satu pendiri organisasi ini, saya berharap agar PWI Kampar dirawat, dijaga marwahnya dengan penuh tanggungjawab, dan hati yang tulus.
PWI Kampar tempat saya bertumbuh, organisasi ini bagian dari setiap helaan nafas saya. Meski sudah memiliki profesi sebagai akademisi, namun panggilan jiwa untuk peduli kepada organisasi PWI selalu masuk di relung hati saya.
Setiap kontestasi, pasti ada yang menang dan kalah. Terimakasih saya kepada Kakanda Hj Netty Mindrayani, M.Si yang telah bersedia maju dalam Konferkab PWI Kampar ke VIII. Menerima kekalahan adalah sebuah kebesaran jiwa, yang tidak semua orang mampu melakukannya. Semoga kakanda senantiasa konsisten dalam menegakkan nilai-nilai integritas dalam kehidupan, termasuk berorganisasi.
Kepada adinda Syawal, selamat memperoleh amanah untuk kedua kalinya. Semoga amanah ini dapat dijalankan dengan penuh rasa tanggungjawab, dan lebih baik dari periode sebelumnya. (*)






